Revitalisasi Gerakan Mahasiswa
Mahasiswa dan Bangsa Indonesia
Siapakah mahasiswa itu? Berdasarkan UU No. 12 tahun 2012 Mahasiswa adalah peserta didik pada jenjang pendidikan tinggi. Namun mahasiswa tidak sekedar peserta didik saja, ia merupakan agen-agen perubahan yang dibekali pemikiran kritis untuk menghadapi permasalahan diberbagai aspek kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Mahasiswa merupakan ujung tombak dari bangsa Indonesia. Namun sebelum jauh kesana, siapa yang kemudian disebut dengan bangsa Indonesia?
Mengenal bangsa Indonesia, haruslah mencari tau dari intisari ideologi Pancasila. Soekarno, dalam bukunya yang berjudul "Filsafat Pancasila menurut Bung Karno" menjelaskan siapa itu bangsa. Nation, atau kebangsaan dalam Pancasila diambil dari pemikiran tiga tokoh besar. Pertama, Ernest Renan yang mengartikan bangsa dengan “le desir d'etre ensemble” atau kehendak akan bersatu. Selanjutnya Otto Bauer yang mengartikan bangsa dengan "eine nation ist eine aus chiksals-gemeinschaft erwachsene Charaktergemeinschaft" atau sebuah persatuan perangai yang ada karena merasa senasib. Terakhir Sarojini Naidu yang mengatakan "Come to my home with a roof made of snow and wall made of the mighty ocean“ yang artinya datanglah ke rumahku yang atapnya terbuat dari salju, dan tembok dari samudera (India). Dari ketiga tokoh ini maka lahirlah pemikiran Soekarno terhadap makna bangsa itu sendiri. Menurut Soekarno, bangsa ialah mereka yang berkehendak untuk bersatu, merasa bernasib sama, dan hidup di suatu wilayah yang sama.
Peran dan Sejarah Perjuangan Mahasiswa
Mengapa Mahasiswa Harus Berperan
Setelah mengenal siapa mahasiswa dan bangsa Indonesia, langkah berikutnya ialah membedah peran-peran yang menjadi tanggung jawab mahasiswa dan sejarah pergerakannya. Mahasiswa memiliki banyak peran yang tersemat dalam dirinya. Pertama agent of change atau agen perubahan. Mahasiswa dengan nalar kritisnya diharapkan berperan dalam perubahan ke arah yang lebih baik dalam tatanan masyarakat dan negara. Kedua, social control atau kontrol sosial yang berarti menjaga stabilitas tatanan sosial bermodal dengan pengetahuan dan keterampilan yang ia dapat di kampus. Ketiga, moral force yang berarti menjaga nilai-nilai moral dalam masyarakat. Terakhir yaitu iron stock, yang berarti menjadi regenerasi para pemikir dan pemimpin.
Mengapa kemudian mahasiswa harus mengemban peran-peran tersebut? Pertama, tidak semua diberi kesempatan menerima pendidikan tinggi. Kemiskinan masih menjadi problematika serius di negara ini, dan biaya untuk pendidikan tinggi masih terbilang mahal saat ini. Oleh karena itu, pemikiran yang berangkat dari metode ilmiah, penelitian, dan riset-riset menjadi nilai yang sangat mahal. Rasionalitas berikutnya yaitu tentang Pendidikan Tinggi itu sendiri, yang sebagian operasionalnya juga berasal dari anggaran pendidikan APBN dimana terdapat pajak-pajak yang dibayarkan oleh warga negara dalam anggaran tersebut. Lantas bagaimana cara kita membalas budi terhadap seluruh warga negara jika enggan mengambil peran? Rasionalitas ketiga yaitu mengingat sejarah pergerakan mahasiswa yang berperan penting dalam perjuangan Indonesia.
Napak Tilas Perjuangan
Sejarah pergerakan mahasiswa merupakan sejarah yang sangat panjang. Dulu tidak semua orang berkesempatan mengemban pendidikan sebelum Indonesia merdeka. Oleh karena itu, mereka yang mendapat kesempatan belajar di sekolah saat masa penjajahan memanfaatkan hal tersebut menjadi tonggak awal perjuangan kemerdekaan. Lahirnya Boedi Oetomo menjadi saksi bagaimana para pemikir mulai mengkaji hak-hak bangsa Indonesia. Hingga pada tahun 1928 pecahlah Soempah Pemoeda yang menjadi kunci persatuan pemuda-pemudi Indonesia. Pasca kemerdekaan, dua pergerakan besar berhasil menggulingkan kekuasaan eksekutif yang mulai melampaui batasnya. Tragedi tritura pada tahun 1966 yang kemudian menjadi awal kelengseran Soekarno dan reformasi pada tahun 1999 yang melengserkan kekuasaan Soeharto. Keduanya merupakan bukti bahwa mahasiswa mengemban peran tersebut, agen perubahan, penggerak sosial, dan watchdog atau pengamat kebijakan negara.
Revolusi dan Idealisme
Revolusi itu bukan ide yang luar biasa, dan istimewa, serta bukan lahir atas perintah seorang manusia yang luar biasa. Kecakapan dan sifat luar biasa dari seseorang dalam membangun revolusi, melaksanakan atau memimpinnya menuju kemenangan, tak dapat diciptakan dengan otaknya sendiri. Sebuah revolusi disebabkan oleh pergaulan hidup, suatu akibat tertentu dari tindakan-tindakan masyarakat. Atau dalam kata-kata dinamis, dia adalah akibat tertentu dan tak terhindarkan yang timbul dari pertentangan kelas yang kian hari kian tajam.
Revolusi merupakan perubahan yang selalu dikaitkan dengan pergerakan. Revolusi seringkali diartikan sebagai lengsernya suatu kekuasaan dan hancurnya sistem pemerintahan oleh aksi massa. Namun sejatinya revolusi tidak terlahir oleh rencana-rencana yang dibangun tokoh, atau aksi massa yang dimobilisasi, atau fenomena-fenomena atas dasar kesengajaan. Revolusi terlahir dengan sendirinya oleh keadaan, oleh kondisi dimana pemangku kebijakan sudah tidak sejalan dengan mandat rakyat. Tugas dan peran mahasiswa dalam revolusi sejatinya hanya satu, menjaga idealisme dan terus berjalan atas kepentingan rakyat.
Revitalisasi Gerakan Mahasiswa
Revitalisasi merupakan sebuah proses menghidupkan kembali atau membugarkan lagi. Revitalisasi gerakan mahasiswa memiliki tujuan untuk menghidupkan kembali gerakan-gerakan mahasiswa yang selama ini selalu tumpu. Gerakan-gerakan mahasiswa hari ini penuh dengan kepentingan dan begitu politis. Kepentingan-kepentingan ini yang kemudian memecah belah mahasiswa menjadi berbagai kelompok, entah berwujud organisasi intra kampus maupun ekstra kampus.
Hal pertama yang harus dilakukan ialah meluruskan paradigma mahasiswa terkait pergerakan. Pergerakan sudah semestinya bertumpu pada ideologi dan kepentingan bangsa. Ideologi kita ialah Pancasila, dan kepentingan bangsa dimana bangsa merupakan serangkai persatuan manusia dalam letak geografis yang sama dengan persamaan nasib. Perlu digaris bawahi yaitu persamaan nasib. Setelah mahasiswa mampu memaknai bangsa dan menyamakan persepsi mengenai Ideologi, barulah mengatur strategi dari kedua arah. Apa maksud dari dua arah?
Coba belajar dari Soe Hok Gie, dalam "Catatan Seorang Demonstran", Gie menjelaskan perannya dalam pelengseran Soekarno. Pada tahun 1961 ia bergabung dalam "Gerakan Pembaharuan Indonesia" yang diprakarsai oleh Prof. Soemitro Djojohadikusumo. Saat itu ia bergabung dalam gerakan infiltrasi dan penetrasi. Bentuk aksinya ialah mencerdaskan masyarakat luas melalui media dan pers. Gerakan dua arah berarti gerakan pencerdasan masyarakat dan gerakan ke pemerintah. Tujuannya bukan membenturkan dengan penggiringan opini, namun penyampaian fakta dan data akan kondisi tatanan masyarakat.
Tidak hanya membutuhkan figur seperti Freire, seorang intelektual yang membangun teori pengetahuannya dari praksis gerakan, lintas dunia akademik, dan praksis riil. Akan tetapi, juga membutuhkan aktivis gerakan pendidikan rakyat yang tekun, serius, dan intensif di akar rumput sebagaimana Horton.
Satu hal yang perlu diingat dalam pergerakan dua arah ini yaitu radikalisme. Radikal berasal dari kata radix atau radici yang berarti akar. Radikal bukan paham yang merusak, namun paham dimana memaknai segala sesuatu secara mendalam hingga akar-akarnya. Hal ini dengan tujuan menuntaskan segala permasalahan dan supaya pohon permasalahan tidak tumbuh kembali dengan menumbangkan hingga akar-akarnya.
Selanjutnya, barulah mahasiswa mengkaji tentang substansi dari pergerakan, memilah isu dari segi urgensi, dan melancarkan inovasi gerakan. Bukan sekedar gerakan, namun inovasi gerakan. Gerakan-gerakan yang inovatif menjadi penyegaran dan tentunya dapat diterima oleh masyarakat luas. Contoh inovasi gerakan? Misal kritik dengan meme, pencerdasan masyarakat tentang korupsi dengan mengangkat penggambaran dalam serial anime Naruto, dan inovasi-inovasi lainnya. Setelah semua gerakan yang berangkat secara radikal, substantif, dan urgent tidak membawa perubahan, maka revolusi akan terjadi dengan sendirinya.
Sumber
1. Filsafat Pancasila menurut Bung Karno, Soekarno.
2. Aksi Massa, Tan Malaka.
3. Catatan Seorang Demonstran, Soe Hok Gie.
4. Pendidikan Kritis, Edi Subkhan.














![]() |
Penghargaan Terhadap Pemateri |