Ulasan Enola Holmes 3, Nama, Realita, dan Bagaimana Manusia Menentukan Pilihan
Petualangan Enola Holmes (Millie Bobby Brown) dan Tewkesbury (Louis Partidge) berlanjut pada jenjang yang lebih seru. Enola dengan sang kakak, Sherlock Holmes (Henry Cavill) bergabung dengan jajaran detektif hebat Victoria menyelesaikan berbagai kasus di Britania, sementara Tewkesbury yang revolusioner terus membela perubahan dan kemajuan melalui kekuasannya sebagai seorang bangsawan. Tewkesbury yang semakin jatuh cinta kepada Enola, pada akhirnya memutuskan untuk melamar sang detektif. Enola, tentu saja dengan perasaan yang sama menerima lamaran tersebut. Hingga diputuskan sebuah pernikahan di pulau Malta, pulau kecil di Laut Mediterania.
Pernikahan dan Kekecewaan
Pemilihan Pulau Malta bukan tanpa sebab. Malta merupakan pulau dimana orang tua Tewkesbury bertemu dan menikah. Malta juga tempat Tewkesbury kecil hidup bersama sang ayah, Peter Tewkesbury. Masa kecil yang disenangi, penuh petualangan, dan penuh cerita. Namun, pernikahan yang direncanakan harus batal karena Sherlock yang tiba-tiba hilang diculik pada hari pernikahan.
Tewkesbury yang kecewa, harus menelan pahitnya kenyataan bahwa pernikahan mereka batal. Ia semakin menderita saat ibunya juga ikut menjadi korban penculikan. Enola yang mencoba menjelaskan semuanya, akhirnya diterima kembali oleh Tewkesbury. Enola, memutuskan untuk mencari dan menemukan kakak dan calon mertuanya. Ia dibantu oleh Tewkesbury, Dr. Watson, Mikiel Mizzi, dan ibunya, Eudoria Holmes.
"Lihat apa yang ada di depanmu,tapi jangan lupa untuk melihat di balik itu. Teka-teki selalu secerdik pembuatnya."
Pencarian berakhir pada satu tokoh yang tidak lain yaitu Profesor Moriarty. Ia bisa keluar dari penjara satu tahun yang lalu oleh bantuan seroang brigadir. Rencananya ia susun sejak kabar pernikahan Enola dan Tewkesbury mencuat. Ia menggunakan nama Profesor Adeline Rathe, dan dekat dengan gubernur Malta.
Sejarah Kelam Imperialisme dan Harta Bajak Laut
Penculikan Sherlock dan Nyonya Tewkesbury bukan sekedar ajang pembalasan dendam Moriarty. Terdapat tujuan lain yang hendak dicapai olehnya, yaitu menemukan 'Harta Bajak Laut' yang tersembunyi di tanah Malta.
Harta bajak laut yang dimaksud merupakan harta jarahan pasukan Britania saat di Afghanistan, tepatnya pada Pertempuran Khost. Pemerintah Britania Raya yang menekan biaya untuk efisiensi perang, tidak sejalan dengan pasukan yang turun di medan pertempuran. Pasukan Britania saat itu yang terdiri dari tentara Inggris dan Malta, dipimpin oleh Peter Tewkesbury, harus menghadapi pertempuran hebat yang mengakibatkan jatuhnya banyak korban tewas. Untuk menutupi kerugian, mereka membunuh orang-orang yang tidak bersalah, menjarah dan mencuri emas dari kuil di Kota Khost.
Satu ton emas jarahan dibawa ke tanah Malta, supaya seolah-olah merupakan emas yang ditemukan di tanah Malta. Sang Kapten, Peter, mengalami krisis batin hingga memutuskan menenggelamkan emas tersebut. Hal ini didengar oleh pemerintahan Britania. Para perwira yang takut kehilangan karir mereka, akhirnya mengkambing hitamkan pasukan Malta. Mereka dituduh sebagai dalang dibalik tragedi ini, dan melakukan pengkhianatan. Hingga akhirnya pasukan Malta yang mendapat hukuman oleh Pemerintah Britania.
Akhir dari Ironi
"Kau mau melindungi emas yang kotor dengan darah? Menodaimu, seperti menodai bocah lemah itu yang namanya hampir kau ambil. Tapi bagaimana dengan nama Holmes? Nama itu dibangun dengan hak istimewa apa? Gula? Dari Jamaika, mungkin? Sutra atau Kapas dari india? Ada sedikit nama Britania yang tidak ternoda dengan penderitaan imperiumnya."
Sejarah kelam sang ayah, menjadi pukulan bagi Tewkesbury. Namun kesedihan tidak akan menghapus sejarah. Emas berhasil ditemukan, Moriarty berhasil dikalahkan, dan Sherlock serta Nyonya Tewkesbury berhasil dibebaskan. Melalui nama bangsawannya, Tewkesbury berhasil mengembalikan emas tersebut ke Afghanistan, mengungkap kejahatan militer terdahulu, dan mengadili para pelaku yang masih hidup. Hingga akhirnya, ia melepaskan nama bangsawannya. Ia memilih memakai nama keluarganya yang lama, Earnest August Tebbity-Gore, dan mengundurkan diri dari jajaran bangsawan. Pernikahan dengan Enola, menjadi akhir dari cerita petualangan yang menakjubkan. Tentu saja, Enola dan Earnest menjadi pasangan terbaik yang sangat bahagia, tanpa memperdulikan nama mereka.
Pesan Moral
Makna dari Nama
Keraguan Enola akan pernikahannya pada awal cerita, dikarenakan nama yang ia sandang. Holmes, nama yang besar harus ia relakan dengan pilihan menjadi seorang bangsawan dengan kehidupan yang glamour, penuh aturan, dan sangat berbeda dengan kehidupan Enola. Kritik dari Sherlock juga menambah beban pikiran, dimana pernikahan merupakan bentuk pelepasan terhadap kebebasan. Namun, film ini mengajarkan kepada kita, bahwa nama bukan sekedar identitas. Nama merupakan sebuah prinsip dan tujuan yang menyatu dengan jiwa seseorang.
Holmes akan selalu melekat pada jiwa Enola, bahkan setelah dia menikah. Tanpa menyandang nama Holmes, Enola tidak akan kehilangan kemampuan 'deductive reasoningnya', kecerdasannya, dan jiwa detektifnya. Sama halnya dengan Earnest, tanpa menyandang nama Tewkesbury, ia tetaplah seorang yang pemberani dan revoluioner.
Kritik Terhadap Konservatisme
"Saat aku bilang ya padamu, lalu, rasanya semua orang ikut menentukan, apa yang harus kukatakan, bagaimana aku harus bersikap, dan siapa yang harus kuundang, Aku mulai merasa aku tak cukup. Keraguan itu bukan soal kau, Aku tak ragu hidup denganmu, atau berkomitmen denganmu."
Pernikahan merupakan pilihan dari dua manusia yang sadar, tanpa paksaan, dan tanpa ada intervensi dari pihak manapun bahkan orang tua. Pernikahan, bukan sebatas pesta mewah, ikrar yang berisi sumpah dan janji, cincin emas dan perhiasan, namun pernikahan merupakan komitmen untuk kehidupan setelahnya.
Seringkali, pernikahan menjadi tidak murni karena campur tangan orang lain. Hal ini coba disampaikan dalam Enola Holmes 3. Keraguan Enola bukan datang dari dia maupun Earnest, justru sikap dan perilaku ibunya yang membuatnya ragu. Ibunya terlalu ikut campur dalam pernikahannya. Enola dan Earnest lebih banyak diarahkan oleh ibunya daripada menentukan pilihan mereka sendiri. Tentu saja, orang tua, keluarga, dan siapapun berhak untuk berbicara terhadap pernikahan suatu pasangan. Namun, tetap harus pada batasan dimana apa yang diberikan merupakan pertimbangan-pertimbangan. Keputusan tetaplah pada dua manusia yang menjalin pernikahan.
Kritik Terhadap Moralitas dan Kemunafikan
"Dia meledakkan kantor pos, dan kau merayakannya. Sementara aku mencuri dari yang korup, dan kau melihatku dibawa ke penjara. Aku marah pada kemunafikan."
Film ini sejak pertama muncul, selalu memberikan kritik tajam pada hal-hal buruk. Pada Enola Holmes 2, Moriarty memeras uang dari menteri yang bekerja sama dalam kecurangan dengan pemilik pabrik korek api. Pada Enola Holmes 3, ia bermaksud mencuri emas yang merupakan curian pasukan Britania saat Perang Khost, Afghanistan.
Pertanyaannya, apakah salah mengambil dari barang curian? Hal itu dianggapnya suatu kemunafikan. Ia menggambarkan bagaimana Sherlock bersikap terhadap ibunya yang berbuat ketidakadilan dalam perjuangan revolusinya, namun dibiarkan oleh Sherlock. Tentu saja, keduanya tidak benar. Suatu ujung jalan, sudah semestinya dilalui dengan kebenaran dan kebajikan. Kecurangan dalam bentuk apapun meski untuk tujuan yang baik, tetaplah suatu kecurangan.


